Mengapa Harus Optimis?

Apa Itu Optimis?

optimisOK, sekarang kita gali dulu apa makna optimis. Jika tidak, maka pembahasan kita akan kabur, sebab dari definisi yang salah makan pembahasan pun akan salah. Ini juga alasan, mengapa masih ada saja orang yang mengabaikan optimis bahkan menganggap tidak perlu, dan lebih parah lagi menganggap merusak. Semuanya disebabkan oleh pemahaman yang salah tentang makna optimisme itu sendiri.

Optimis itu satu kata dasar dengan optimal. Maka maknanya pun akan berkaitan dengan makna optimal alias yang terbaik. Artinya, optimis adalah cara pandang dimana apa pun yang terjadi saat ini adalah yang terbaik untuk Anda. Maka wajar jika masih ada yang sulit untuk optimis, karena memang sulit mengatakan bahwa kondisi saat ini adalah kondisi yang terbaik. Saat Anda sedang menderita kesulitan, sulit rasanya mengatakan saat ini atau momen ini sebagai momen terbaik bagi Anda.

Untuk memahami, menyadari, dan menerima bahwa momen ini adalah momen yang terbaik perlu perenungan yang mendalam plus keimanan yang kuat. Kita harus bisa melihat, bahwa apa yang terjadi dan apa pun kondisi saat ini adalah yang terbaik bagi kita. Hanya saja, memang sulit melihat kebaikan dibalik penderitaan. Namun dengan pemikiran yang mendalam dan keimanan, Anda bisa melihatnya.

Sebagai Muslim, saya yakin apa pun yang saya alami, itu yang terbaik bagi saya. Saya yakin Allah Maha Pengasih. Hanya saja, sering kali kita malah membencinya, sebab kita melihatnya sebagai penderitaan. Filosofinya mirip dengan obat, pahit tapi menyembuhkan. Bisa jadi, apa yang kita benci, itu yang terbaik bagi kita.

Keyakinan inilah yang akan menjadikan kita optimis. Yakin bahwa momen saat ini adalah momen terbaik, meski pun terlintas dalam pikiran bahwa kita tidak menyukainya. Itu wajar, selama kita tetap memegang prinsip, suka tidak suka, momen saat ini adalah momen terbaik untuk kita.

Saat kita sudah menyadari bahwa momen saat ini adalah momen terbaik atau optimal, maka besok atau masa depan akan baik juga. Momen optimal artinya optimal untuk sekarang dan hari esok. Dasar atau landasan hari esok adalah momen sekarang, jika momen saat ini baik, maka kita juga berharap esok lusa akan lebih baik juga.

Inilah mengapa, sikap optimis sering dikaitkan dengan masa depan, sering dikaitkan dengan harapan.

Salah Kaprah dengan Kata “Baik atau Positif”.

Ada yang mengatakan kepada saya, bahwa kita tidak boleh selalu berpikir positif, sebab pada kenyataanya tidak semua positif. Katanya, perbuatan jahat adalah negatif tidak bisa menjadi positif.

OK, saya jelaskan disini. Memang, perbuatan jahat tetaplah tidak baik, tetaplah negatif. Berpikir positif tidak mengubah hal ini. Namun, dengan berpikir positif atau optimis, maka kita akan menjadikan perbuatan jahat kita sebagai sumber hikmah. Ada sisi baik dibalik perbuatan jahat kita dan itulah yang disebut berpikir positif. Mengambil hikmah adalah ciri orang yang optimis.

Berbeda dengan orang yang berpikir negatif atau pesimistis. Saat dia melakukan kejahatan, maka dia akan terus berpikir yang negatif. Mungkin dia akan balas dendam terhadap yang menangkap atau melaporkannya, selalu memberikan pembenaran atau alasan, bahkan tidak sedikit yang berputus asa dan bunuh diri.

Bisa dilihat bedanya orang optimis dan pesimis, meski pun sama-sama melakukan kejahatan, tetapi setelahnya akan berbeda. Yang optimis akan lebih baik dan yang pesimis malah memperburuk.

Mudah-mudahan dengan contoh kasus ini, Anda bisa melihat perbedaan antara orang optimis dan pesimis. Namun, saya akan bahas lebih lanjut tentang perbedaan keduanya.

Perbedaan Orang Pesimis dan Optimis

Orang pesimis akan melihat segala sesuatu dengan negatif atau tidak baik. Kondisi saat ini buruk dan akan buruk lagi. Dia tidak pedulu apa pun yang akan dilakukan, hasilnya akan buruk. Menurut Anda, apa yang akan terjadi pada orang pesimis?

Dia tidak akan bertindak. Buat apa bertindak jika hasilnya buruk? Jelas, pesimis bisa menghancurkan peluang menuju sukses, sebab sulit meraih sukses tanpa bertindak.

Sebaliknya, orang optimis, karena dia melihat segala sesuatu baik dan akan baik. Maka dia akan berusaha atau bertindak menyambut masa depan yang lebih baik.

Optimis tidak berarti hanya berharap baik dan hanya berharap tanpa tindakan. Bukan seperti ini makna optimis. Mungkin sebagian orang yang mengatakan sikap optimis salah karena menganggap maknanya seperti ini.

Optimis adalah seperti cahaya, yang akan menerangi masa depan Anda, sehingga jalan terlihat jelas dan memudahkan Anda untuk mengayunkan langkah.

Pesimis seperti kegelapan, Anda tidak melihat masa depan, tidak melihat jalan, maka Anda lebih baik tidak usah melangkah. Justru, sikap pesimislah yang berbahaya, karena akan menutup masa depan dan mematikan langkah Anda.

Meski pun pada kenyataanya, orang pesimis tetap bertindak. Ya, tidak ada orang yang benar-benar 100% pesimis. Jika ada, dia sudah mati. Orang tanpa harapan itu tidak akan bertahan lama, dia akan bunuh diri. Jika masih hidup, setidaknya dia masih memiliki harapan.

Orang akan bertindak, sebatas rasa optimisnya. Jika optimismenya tinggi, maka tindakannya akan tinggi juga. Begitu juga orang pesimis, dia tidak benar-benar akan diam, dia akan bertindak sejauh mana rasa optimis yang masih tersisa dalam dirinya.

Optimisme dan Sukses

Saya kira, sudah terlihat jelas bagaimana relasi antara optimisme dan sukses. Jika pesimis, akan sangat sulit sekali meraih sukses. Dia tidak memiliki harapan, jika tidak memiliki harapan, dia tidak akan bertindak. Jika dia tidak bertindak, apa yang diharapkan dari dia?

Berbeda dengan orang optimis. Dia yakin saat ini adalah saat optimal dan akan membawa kebaikan juga pada hari esok. Dia akan bertindak, penuh dengan keyakinan, sambil menatap hari esok yang gemilang.

Jelas sekali peran optimisme. Orang yang sekarang sukses adalah mereka yang optimis. Terlepas apakah mereka mengathui apa itu optimis atau tidak, sehingga mereka tidak membahasnya. Satu yang pasti, tidak mungkin mereka sampai ke tahap ini jika mereka tidak optimis akan meraihnya.

Mengapa harus optimis? Anda sudah bisa menjawabnya.

Apakah Anda Optimis?

Bagaimana cara mengukur optimisme Anda? Banyak sekali indikasinya. Saat Anda sangat sadar dan menerima bahwa kondisi saat ini adalah kondisi terbaik, terlepas apa pun kondisi Anda, maka Anda adalah orang optimis. Jika Anda masih mengeluhkan kondisi saat ini, masih ada sikap pesimis dalam diri Anda.

Misalnya, jika masih ada ketakutan akan masa depan. Jika Anda tidak yakin akan masa depan Anda. Jika Anda berpikir masa depan akan lebih buruk, maka Anda termasuk orang yang pesimis.

Yang bisa mengukur dan menganalisa adalah diri Anda sendiri. Silahkan renungkan.

Tentu saja, masih banyak pembahasan tentang optimisme. Cukup menarik, in sya Allah akan dibahas pada posting-posting selanjutnya termasuk bagaimana agar kita menjadi orang yang memiliki sikap optimis, terhindar dari sikap pesimistik.

Optimis !

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Anti-Spam by WP-SpamShield