Mindset Terpenting Seorang Pebisnis: Experimental Mindset

Saya suka sekali mengikuti berbagai group komunitas bisnis baik melalui WA, Telegram, dan juga Group Facebook. Banyak ilmu, ide, insight, dan jaringan yang didapatkan disana. Saya memperhatikan, ada satu tipe pertanyaan yang sering muncul dalam berbagai group, yang menggambarkan mindset si penanya.

Mereka bertanya pertanyaan seperti ini:

  • Kalau saya melakukan ini, apakah akan berhasil?
  • Mengapa saya sudah melakukan ini tetapi belum berhasil?
  • Saya mau membuat iklan, bagaiman sarannya agar berhasil?
  • Apakah produk saya ini akan laris dipasar?

Tahukah Anda jawabannya yang benar? Saya bisa menjawab semua pertanyaan semacam itu dengan satu kata: mungkin.

Ya jawabannya mungkin. Jangan berharap ada yang menjawab pasti.

Experimental Mindset
Bohlam Lampu Lahir Dari 10.000 Eksperimen

Satu-satunya Cara Memastikan Adalah Mencobanya

Tidak ada yang bisa memastikan pilihan dan keputusan, baik dalam memilih produk, formasi iklan, media iklan, copywriting iklan, orang yang direkrut, penempatan karyawan, dan sebagainya yang akan berhasil. Banyak sekali variable yang terlibat bahkan variable yang tidak terlihat dan tidak kita ketahui.

Adalah sebuah kesombongan jika ada orang yang mengaku sudah mengetahui semua variable yang mempengaruhi sukses atau tidak. Sehingga adalah sebuah kesobongan jika kita memastikan pilihan kita PASTI berhasil. Tidak ada yang bisa memastikan. Pebisnis besar pun pernah salah dalam mengambil keputusan.

Seorang Steve Jobs yang kita ketahui sudah membidani berbagai produk sukses di pasaran dunia, tetap saja pernah salah saat dia terpincut oleh sebuah produk, yang dia pikir akan laris ternyata tidak. Apalagi bagi seorang pebisnis pemula, jika kita tidak bisa memastikan keberhasilan pilihan kita, itu adalah hal yang wajar.

Satu-satunya cara untuk mengetahui hasilnya adalah dengan mencobanya.

Bahkan sebuah pilihan yang pernah dan sedang berhasil pun tidak ada jaminan akan selalu berhasil. Misalnya Anda membuat iklan yang mendatangkan banyak penjualan, apakah akan mendatangkan penjualan terus-menerus? Tawabannya tidak. Jika suatu saat, iklan Anda tidak menghasilkan, jangan kaget.

Produk yang selama ini laku, bisa saja menurun penjualannya. Banyak faktor yang mempengaruhi minat pasar terhadap produk Anda. Faktor itu banyak sekali sehingga sulit untuk kita prediksi. Sehingga, satu-satunya cara untuk memastikan adalah dengan mencobanya alias lakukan eksperimen.

Lakukan Analisa dan Terapkan Ilmu Semaksimal Mungkin

Tentu saja, bukan berarti kita mengabaikan analisa data dan pemanfaatan ilmu. Misalnya saat Anda akan meluncurkan sebuah produk, maka gunakan ilmu merancang produk dan gunakan data (hasil riset pasar misalnya) semaksimal mungkin. Diharapkan ilmu dan data bisa membantu mengurangi biaya percobaan kita.

Mengambil keputusan dan pilihan berdasarkan ilmu dan data akan jauh lebih baik dibandingkan asal mengambil keputusan. Memang ada keputusan yang disebut berdasarkan insting. Namun sebenarnya insting juga berdasarkan pengetahuan yang sudah mengendap di pikiran bawah sadar. Hanya saja prosesnya yang tidak sistematis dan analistis.

Insting seorang pengusaha yang sudah berpengalaman dengan yang baru akan berbeda. Pengalaman dan ilmu sudah menumpuk di pikiran bawah sadar pebisnis berpengalaman sehingga instingnya lebih tajam. Namun bukan berarti pemula tidak boleh menggunakan insting, silahkan saja.

Sering kali, insting datang setelah kita berpikir secara maksimal. Kemudian kita rileks dan ide pun datang. Karena pikiran bawah sadar kita sudah menerima perintah, kemudian mengolah data dan ilmu secara tidak sadar, dan munculah ide tersebut.

Jadi belajar dan menganalisa data tetap diperlukan, kemudian ambil keputusan, dan lakukan eksperimen apakah keputusan Anda berjalan dengan baik atau tidak. Ilmu bisnis tetap penting.

Ilmu dan Data Orang Lain Belum Tentu Relevan

Adalah hal yang positif jika Anda memanfaatkan ilmu dan data orang lain. Misalnya Anda meminta pendapat atau konsultasi dengan ahli pemasaran. Anda bisa terapkan saran-saran dari mereka dan pasti berharga. Tapi, apakah akan pasti berhasil? Jawabannya tidak.

Anda tidak perlu menyalahkan mereka. Konsultan Anda mungkin sudah memberikan yang terbaik berdasarkan ilmu dan data yang mereka miliki. Namun belum tentu relevan 100% dengan timing, kondisi, dan keadaan Anda lainnya. Sekali lagi banyak faktor, sehingga tidak bisa dipastikan.

Bagaimana cara memastikannya? Ya, kita perlu mencobanya.

Saran dari guru atau konsultan marketing bukannya tidak berguna, justru sangat berguna, meski pun tidak bekerja. Anda tidak perlu memikirkan dari nol. Percobaan Anda mungkin tidak sebanyak dibandingkan Anda memikirkannya sendiri.

Sebagai contoh, Anda meminta konsultan untuk merancang program pemasaran Anda. Berkat ilmu dan data yang dia miliki, itu sudah menjadi rancangan terbaik. Kemudian Anda coba dan ternyata tidak atau kurang berhasil. Bisa jadi dengan beberapa tweak, program pemasaran tersebut menjadi sukses besar.

Jika Anda sendiri yang merancang (anggap masih pemula) mungkin akan banyak tweak yang perlu dilakukan. Bisa jadi biaya percobaan lebih mahal dibandingkan membayar konsultan.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah ilmu dan data dari orang lain itu sangat berguna, tetapi tidak ada jaminan akan berhasil. Jangan pernah menggantungkan hidup dan bisnis Anda dari keputusan orang lain. Kehadiran orang lain, baik guru atau konsultan, adalah membantu Anda.

Mereka itu hanya memberi saran, tetapi keputusan tetap ditangan Anda. Apakah itu keputusan menerima atau menolak semua ada pada diri Anda. Jika anda yang memutuskan, maka Anda yang bertanggung jawab. Jangan pernah menyalahkan siapa pun termasuk konsultan Anda.

Saran dan ide konsultan yang salah adalah sesuatu yang wajar. Sebenarnya mungkin saja bukan salah, tetapi masih perlu beberapa penyesuai dan perbaikan (tweak) sampai menjadi sebuah saran dan ide yang berhasil. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan percobaan.

Bisnis Memang Penuh Dengan Eksperimen

Seluruh hidup adalah sebuah eksperimen. Semakin banyak eksperimen yang anda buat, semakin baik.

Untuk mendapatkan produk yang terbaik, selain Anda menerapkan ilmua merancang produk dan data riset pemasaran, Anda tetap perlu mencobanya. Jika gagal, lakukan modifikasi kemudian dicoba lagi. Bahkan dalam kasus tertentu bisa saja kita mencoba produk yang berbeda.

Untuk mendapatkan iklan terbaik juga membutuhkan eksperimen. Tentu saja Anda terapkan analisa target pasar Anda, memilih gambar sebaik mungkin, copywriting sebaik mungkin, dan pilih media yang paling cocok, kemudian lakukan percobaan. Jika tidak berhasil, lakukan tweak dan coba lagi dan lagi.

Saat Anda melakukan sesuatu dalam bisnis kemudian gagal, sebenarnya bukan gagal. Itu hanyalah umpan balik bahwa ada yang harus diperbaiki, baik produk maupun pemasarannya. Setelah memperbaiki, Anda perlu mencobanya kembali dan seterusnya. Rahasia Sukses itu adalah bersiap untuk gagal dan gagal lagi.

Menekan Biaya Eksperimen

Salah satu hambatan pebisnis pemula yang modalnya kecil adalah biaya untuk eksperimen tersebut. Sudah pasti, eksperimen tersebut akan memakan biaya. Namun, kehilangan yang bisa terjadi akibat tidak mau bereksperimen bisa saja jauh lebih besar. Sayangnya, ini sering tidak kita sadari.

Misalnya, Anda seorang pengusaha kecil yang memasang iklan di Facebook dengan anggaran Rp 1.000.000 per hari. Biaya itu mendatangkan 1000 kunjungan per hari. Dan mendatangkan 10 penjualan dengan keuntungan Rp 250.000 per transaksi sehingga total pemasukan Rp 2.500.000 per hari. Secara ROAS, ini sudah menguntungkan.

Kemudian dia membuat iklan yang berbeda, dengan anggaran yang sama, tetapi dia menghasilkan 2000 kunjungan dan menghasilkan 20 penjualan, sehingga hasilnya Rp 5.000.000 per hari. Akhirnya dia menghentikan iklan pertama dan fokus pada iklan ini.

Tentu dia harus mengeluarkan anggaran Rp 2.000.000 untuk menjalankan 2 iklan. Namun hasilnya terbayar karena dia mendapatkan surplus pemasukan Rp 2.500.000 per hari. Sementara iklan yang kurang berhasil tadi dihentikan sehingga anggaran kembali menjadi Rp 1.000.000 per hari.

Seandainya dia tidak mau bereksperimen, dia akan kehilangan peluang pemasukan Rp 2.500.000 per hari atau Rp 62.500.000 per hari atau Rp 750.000.000 per tahun. Padahal yang kita korbankan “hanya” beberapa juta untuk mencoba iklan beberapa hari.

Dari sini kita bisa memahami bagaimana ruginya kita jika tidak mau bereksperimen. Namun bisa saja, bagi pebisnis pemula, uang yang “hanya” jutaan itu pun masih berat. Untuk itu, kita pun perlu bereksperimen, bagaimana caranya agar eksperimen kita tidak menghabiskan biaya yang besar. Jika kita mau belajar, ada banyak metode eksperimen iklan yang bisa menekan biaya.

Contoh lain untuk membuat produk. Bukankah eksperimennya bisa mahal? Tentu saja. Jika modal Anda cukup, maka itu mungkin tidak masalah. Bagi yang terbatas, cobalah pikirkan cara eksperimen yang murah. Misalnya membuat prototype, kemudian tawarkan secara pesanan atau pre-order. Jika respon bagus, Anda bisa mempersiapkan produksi secara lebih besar.

Jadi kita perlu juga eksperimen untuk menekan biaya eksperimen. Karena eksperimen itu hampir wajib dilakukan demi keberhasilan dalam bisnis. Anda harus ahli bereksperimen.

Kadang eksperimen tidak membutuhkan biaya tambahan. Misalnya Anda tetap membuat brosur dengan jumlah dan desain yang sama, tetapi coba saja sebarkan ke target yang berbeda. Mungkin hasilnya akan berbeda. Jika lebih jelek, coba lagi target yang berbeda dan seterusnya.

Percobaan juga bisa dilakukan dalam skala kecil. Robert G. Allen menyarankan, cobalah iklan pada surat kabar kecil dulu sebelum memasang iklan pada surat kabar besar dengan biaya besar. Dia menyarankan, buat beberapa iklan kecil pada surat kabar kecil, lihat iklan mana yang paling menonjol (cukup berarti). Gunakan iklan itu untuk surat kabar besar.

Dan masih banyak ide-ide eksperimen yang bisa Anda terapkan.

Mulai Lakukan Eksperimen

Cobalah pikirkan apa yang selama ini sudah Anda lakukan dan mau mencoba melakukannya dengan cara yang berbeda. Kemudian lihat hasilnya, apakah lebih baik? Apa pelajaran yang bisa diambil?

Saat Anda merasa tidak memiliki keahlian sempurna, mulainya mencoba sesuatu. Jika tidak berhasil, coba yang lainnya; pelatihan sebuah experimental mindset.

Bagi Anda yang baru memulai dan belum melakukan apa-apa, cobalah apa yang terpikirkan oleh Anda. Lihat hasilnya. Jangan berpikir akan menemukan ide yang pasti berhasil, tidak ada itu. Coba sajalah!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Anti-Spam by WP-SpamShield